Rabu, 15 April 2009

Coretan diri

Hidup itu apa dan untuk siapa?

Sebuah tanda tanya besar yang jawabanya menjadi sebuah misteri,
tergiang ketika raga yang tenang terusik di kesuyian malam,
terjaga,terdiam dan merenung,
menerawang langit-langit kamar yang berujung namun terasa luas bak langit yang mengantung di angkasa,
mengurai satu demi satu perjalanan hidup yang tlah terlalui,
mencoba mendalami lagi makna-makna yang mungkin bisa dijadikan pedoman,
mata yang menatap kosong hanya terlintas tarian indah awan diantara bintang yg bertaburan menghiasinya
meski hanya sebuah imajinasi namun terlihat pasti
suara-suara malam yang hening semakin mengatarkan hayalan semakin melambung tinggi,
kadang tertawa
tak jarang pula terluka
menyibak jalan-jalan kehidupan yang berliku
melalui hamparan jalan yang tak tentu
kadang lapang
tak jarang pula terjal
namun apalah daya
sudah menjadi sebuah garis yang meski dilalui,
kini tubuh ini terasa ringan
bak kapas yang dengan mudahnya terhempas kesana kemari tertiup angin
melayang
melayang
dan terus melayang
hingga lamunan itu terpecahkan oleh
tamparan duka,
air mata cermin kesedihan kini meleleh dengan tenangnya
mengaliri lekuk-lekuk wajah hingga menetes tak berbekas
duka yang menyelimuti diri rupanya tlah tergambarkan olehnya,
kini jari-jari lembut mencoba menghapusnya
mata yang merah berduka
kini mencoba untuk kembali bersinar meski dengan susah payah menghapus sedikit demi sedikit noda merah itu,
mengadah ke langit seakan ingin pasrah kepada yang BERKUASA atas langit dan bumi,
menerawang lagi..
Hidupku untuk apa Tuhan?
Pertaya'an yang sulit mendapatkan jawaban,
jarak yang jauh dengan Sang Pencipta membuatku selalu bertanya tanya seperti itu,
diri yang berlumur lumpur busuk dosa
tak satupun terlihat bersih dari noda dosa
raga yang tak lagi mau menyempatkan diri menghadap kiblat bersimpuh memohon ampun,
bathin yang angkuh merasa sudah tak butuh lagi sentuhan penyejuk kalbu dariNYA,
karna jeratan-jeratan setan yang laknat
dengan sejuta muslihatnya mereka membelengu agar kontak dengan Tuhannya terputus,
itulah yang membuat pertaya'an yang seharusnya dengan mudah menemukan jawabannya,
hidupku untuk siapa?
Sulit...
Sulit sekali
kapan kah akan menemukan jawabannya,
menjalin hubungan dengan sesamanya sudah sering terjalin demi mencari jawaban atas pertanya'an ini,
Tuhan aku menunggu TakdirMU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar